Menggalau Boleh kok, asal…

Posted: May 19, 2011 in Ngerumpi, string

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

“H3h…k4moch c4pah?

Ahkoch P4nDyuuuu… *dikepruk syn*”

————————————

Kira kira seperti itu trend beberapa lalu. 4L4Y. Fenomena baru yang entah munculnya darimana dan penemunya siapa juga saya bener-bener engga tau. Serius deh, engga bohong. Fenomena  4L4Y ini terkadang bikin kita ketawa ketiwi sendiri ketika kita butuh hiburan sekedar menghilangkan stress karna kerjaan, tapi kadang juga suka bikin bête dan emosi jiwa kalo lagi serius-seriusnya kita diajak chat make bahasa 4L4Y sesuai Pergaulan yang disempurnakan. Udah stress kerja, mau refresh, eh malah chat sama 4L4y’ers dengan bahasa kudanil. Rasanya pengen anget banting computer. Ngga apa-apa kok, computer kantor juga, banting aja, tar dapet baru…hehe

Sejalan dengan kehidupan 4L4y, sekarang muncul lagi fenomena Galau. Apalagi itu galau? Saya juga ngga ngerti, yang jelas kalo baca-baca di TL (Time Line) twitter saya, isinya menurut saya pribadi sejenis keluhan. Kayaknya begitu.

Kalo membandingkan dua fenomena di atas, perbedaan yang ada pada sisi pembahasan dan ‘pemainnya’. Maksudnya, seorang 4L4y biasanya membahasa segala hal, dari yang penting banget, sampai hal yang sangat penting banget sekali, trus juga dihuni oleh anak-anak remaja berumur kurang dari 20-an tahun (kaya saya… :p ) sedangkan untuk Galauisme ini lebih didominasi oleh orang orang berumur diatasnya dan pembahasan yang lebih ke sisi tjintah, pergaulan, bahkan pribadi.

Menggalau tentu boleh boleh saja, Halal, toh ngga ada aturan dari MUI yang melarang, takut dimarahin presiden yang suka menggalau kali yah ;))

Ketika tidak ada aturan yang melarang buat menggalau, tentu kita sendiri yang membuat batasan di social media hal apa saja yang ‘bisa’ kita ocehkan dengan balutan kata “Galau”. Yaaah, kalo menggalaunya hanya sekedar main main, ngga yang mengerucut ke sisi pribadi dan terlihat bahwa ‘itu galau beneran deh’ sih ngga masalah. It’s fun, right? Hanya sekedar untuk joke atau bahan obrolan di time line twitter.

Naaaaah, saya, entah kebetulan apa engga, kok sering melihat dari sisi cewe yang lebih suka menggalau nih. Mungkin karna cewe lebih peka dan lebih menggunakan hati untuk menilai sesuatu kali yah, jadi ketika ada hal yang kurang pas, langsung deh….galauan galauan bercucuran di TL twitter saya. Sejauh ini sih fine-fine saja, tapi ada juga sih beberapa galauan mereka yang menurut saya udah desperate banget buat idup, apalagi kalau masalah pertjintahan. LOOOOCH GHUEEE END!

 

 “ aduuuuh, kamyuuu kok geto syiiiih…akyu maunya sama kamoch, tapi kamoch udah ada yang punya, akoch mau koook jadi yang keduax” –ini hanya contoh belaka, kesamaan cerita hanya ketidak sengajaan-

 

Pernah saya menjumpai galauan yang isinya seperti itu, bahasanya ngga alay sih, cuman penulisnya aja yang alay. Eh?

Mungkin kalo kita mendengar itu dari satu orang hanya sekali dua kali tiga kali mungkin engga masalah, tapi kalau tiap hari mendengar hal yang sama dari orang yang sama dan akun  yang sama??? Kasian ngga sih? Jadi menilai hal yang negatif ngga sih? Kalo saya menilai, iya.

Ladies, banyak dari para wanita yang mengungkapkan isi hatinya seperti itu di social media, tidak sedikit pula laki-laki. Jadi kalo saya boleh kasih saran sih, “kalian itu keren, makhluk yang sempurna, cakep cakep lagi. Jadi meng-galaulah ‘seperlu dan sepantasnya’ saja. Jangan jadikan orang lain menilai kita negatif karna galauan kita yang ‘mungkin ‘ keterlaluan.”

 

“murah bukan berarti murahan dan tak bernilai, tapi murahan, memang bernilai tapi diacuhkan” –ngga nyambung deh-

 

NB: saya lagi menggalau. ;))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s